Teruntai salam hormat beriring salam kesejahteraan yang Ananda haturkan.
Semoga selalu berada dalam naungan kasih Tuhan yang Mahamelindungi.
Dan Ananda samprkan sepucuk guratan kehidupan yang akan Ananda ceritakan, untuk Ayahandaku.
Sebelum aku banyak berkeluh kesah, sebelum Ayahanda semakin geram dengan lakuku. Ananda ingin menyakan kabar ibunda. Baik-baikah ia di sana? Bagaimana dengan si Bungsu, sudah sejauh mana racauannya? Dan, apakah engkau masih gigih berharap tentang aku ini? Ayahandaku, Ananda baik-baik saja di sini, di negeri perantauan yang kejam ini. Tak perlu Ayahanda pikirkan tentang sisi dunia ini. Ananda hanya minta agar selalu didoakan agar tak tergerus kejamnya hedonis, tak terkoyaknya iman karena fantasi semu, tak terjerembab dalam dunia maksiat.
Sesekali memang Ananda hanyut, namun sekuat daya pula Ananda berusaha bangun sadar. Sesekali Ananda tenggelam, dan sekuat tenanga pula Ananda coba untuk melawan arus hidup. Di perantauan ini Ananda belajar kehidupan, tentang air keruh yang tak jelas manis atau asinnya. Jalanan memang keras, titiannya ternyata bertabur kerikil dan onak yang tersebar dan sengaja disebar. Seperti cepatnya kereta yang mengancam nurani, seperti lambatnya bus kota yang mengancam waktu, sepeti angkuhnya gedung tinggi yang mendenguskan kesombangan dalam jiwa.







