Tampilkan postingan dengan label Sastra Indoesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sastra Indoesia. Tampilkan semua postingan

Minggu, 24 Juni 2012

Surat Untuk Ibunda


Terhantar segala bentuk kasih Ananda dalam balutan cinta untuk Bunda di sana. Semoga Bunda sehat adanya dan tak kurang kuasa dalam menghadapi problema dunia.
Semoga sehat raga dan jiwa selalu hinggap menyertai dan tak bosan menemani. Terlampir hangat rindu ananda dalam tangis malam.

Ada yang ingin Ananda tanya pada Bunda mengenai sosok wanita, sebenarnya Ananda malu untuk bertanya demikian tentang ini pada Bunda. Bukan prahara cinta, bukan Bunda, Ananda masih terlalu hijau untuk bercakap panjang tentang hal demikian.

Ada yang Ananda risaukan, dan ganggu pikiran Ananda sejak lusa kemarin matahari terbit. Apakah sama Bunda, wanita era  kartini dengan wanita era digital ini?
Continue Reading...

Senin, 18 Juni 2012

Bagaimanapun Aku Membutuhkanmu


Di malam yang dingin aku berjalan, menyeret kedua kakiku perlahan. Ditemani riuh suara knalpot bising yang buat kepala semakin pening. Aku berjalan di antara ribuan khawatir, rindu, dan gemuruh kalut pada hati setiap pejalan kaki. Aku menerawang, menghimpit segala rasa yang tengah ada.

Jarum jam menusuk pada angka delapan. Aku menunggu seseorang. Orang yang tak asing, orang yang sudah lebih dari dua tahun menemani setiap sungging senyum dan haru air mataku. Katanya ia mau menungguku di tepian jalan, di mana belukar kendaraan tak pernah acuh dengan keadaan. Tadi pagi ia pun mengantarku pergi, dan sudah selayaknya ia menjemputku saat aku pulang kini. Aku rindu padanya, rindu lesung pipinya, walaupun hanya ada di sebelang pipi kanannya. Aku rindu tentang sebuah rasa asa saat bersamanya, yang dulu.

Sudah lebih dari sepuluh menit aku menunggu, berdiri terpaku dengan agak kelu. Aku coba hilangkan bosan yang mengancam. Player musik Handphone dan Headset kupasang dan melekat di kedua telingaku. Sejurus kemudian musik mengalun sendu, memori saat dahulu menyeruak ke dalam kalbu. Dua puluh menit dari jam delapan. Lalu lintas tak jua kunjung lengang. Polantas bekerja meniup-niup peluit seperti wasit di tengah jalan yang sempit.

Pukul delapan lebih dua puluh lima menit. Palyer musik dan headset sudah kulepaskan, dan aku masih menunggu di tepian jalan. Apakah ia akan hadir. Seseorang yang telah berjanji setia kepadaku, apakah ia melanggar janji kecil tadi pagi untuk menjemputku malam ini? Aku mulai khawatir.
Continue Reading...

Jumat, 01 Juni 2012

Rangkuman Sosiologi (Edukasi-Narasi)



Malam itu aku terbangun di tengah malam, aku coba membuka tas sekolah dan kubuka buku sosiologiku. Belum sempat aku membacanya, aku sudah tertidur lelap. Sampai akhirnya aku bangun di pagi hari yang cerah.

Di pagi itu, aku langsung melakukan interaksi sosial dengan keluargaku, pagi itu aku mengobrol dengan adikku, dengan adanya kontak sosial secara langsung dan membicarakan tentang sekolahnya. Kadang kami melakukan sesuatu yang asosiatif sepeti membersihkan rumah bersama-sama, bahkan terkadang aku harus mengalah terhadap perilaku adik-adikku.

Walau sering kami bersaing untuk memperebutkan sesuatu yang berujung konflik atau pertikaian diantara kami.Bahkan kami pun saling melakukan tindakan kontravensi, seperti memfitnah, provokasi atau intimidasi. walaupun demikian, aku sebagai kakak selalu memberikan sugesti kepada mereka, bahkan mereka sering meniru perilakuku, baik secara imitasi maupun identifikasi yang perilaku mereka sama persis denganku.
Continue Reading...

Followers

Follow The Author