Di malam yang dingin aku berjalan, menyeret kedua kakiku perlahan. Ditemani riuh suara knalpot bising yang buat kepala semakin pening. Aku berjalan di antara ribuan khawatir, rindu, dan gemuruh kalut pada hati setiap pejalan kaki. Aku menerawang, menghimpit segala rasa yang tengah ada.
Jarum jam menusuk pada angka delapan. Aku menunggu seseorang. Orang yang tak asing, orang yang sudah lebih dari dua tahun menemani setiap sungging senyum dan haru air mataku. Katanya ia mau menungguku di tepian jalan, di mana belukar kendaraan tak pernah acuh dengan keadaan. Tadi pagi ia pun mengantarku pergi, dan sudah selayaknya ia menjemputku saat aku pulang kini. Aku rindu padanya, rindu lesung pipinya, walaupun hanya ada di sebelang pipi kanannya. Aku rindu tentang sebuah rasa asa saat bersamanya, yang dulu.
Sudah lebih dari sepuluh menit aku menunggu, berdiri terpaku dengan agak kelu. Aku coba hilangkan bosan yang mengancam. Player musik Handphone dan Headset kupasang dan melekat di kedua telingaku. Sejurus kemudian musik mengalun sendu, memori saat dahulu menyeruak ke dalam kalbu. Dua puluh menit dari jam delapan. Lalu lintas tak jua kunjung lengang. Polantas bekerja meniup-niup peluit seperti wasit di tengah jalan yang sempit.
Pukul delapan lebih dua puluh lima menit. Palyer musik dan headset sudah kulepaskan, dan aku masih menunggu di tepian jalan. Apakah ia akan hadir. Seseorang yang telah berjanji setia kepadaku, apakah ia melanggar janji kecil tadi pagi untuk menjemputku malam ini? Aku mulai khawatir.
