Ada yang tersiram ada yang terhunus kelam. Pada suatu kisah mengenai
peraduan seorang insan yang berjalan. Dari ufuk dihadapkan raut wajah yang
cerah. Namun dibalik sisinya ada gelap yang menyergap. Kadang kala sinar datang
dari atas, buat teras semua. Tapi murka tetaplah saja, karena sisi gelap
tetaplah ada.
Kemudian berjalan memunggungi surya. Sisi gelap semakin jelas menghitam. Tepat
di hadapan, di depan sosok nestapa seorang pandir hina. Dipujanya sinar terang
yang hangat. Tapi ada bagian gelep yang lupa disengat.
