Jingga mewarnai langit sore itu, awan kelabu hinggap dan pergi, bangau terbang berlalu pelan. Sekumpulan anak laki-laki berusia tidak lebih dari sepuluh tahun berkumpul riuh saling memandang. Sambil bercengkrama menunggu kawannya yang belum dating. Anak kecil itu menghampiri kawannya dengan benda bulat yang ditaruh diantara ketiaknya. Sambil tertawa Ia berkata , "Woy, ayo dah maen..katanya mau ngadu??"
serentak mereka semua berdiri tegap, seperti prajurit kecil yang siap diberi komando.
"Et daahhh..lama luh, buruan bangun..!!!" Yang paling besar diantara mereka bekata pada kawannya yang masih saja asik duduk menghisap es mambo.
Jumlah mereka memang tak begitu banyak, hanya delapan orang, cukup untuk menghabiskan semua buah jambu yang ada di pohon. sekarang mereka ingin melakukan sesuatu yang sangat suci dan sakral bagi mereka, yaitu mengalahkan anak lain yang tinggal di seberang jalan raya.
"Keng, luh bawa tas gak? masukin nih aer minum" Kata Sapi'i yang kepada bongkeng yang sibuk mengelap ingus dengan lengan bajunya. Sapi'i yang selalu dipanggil pi'i ini adalah anak bertubuh paling besar dan legam warna kulitnya, dan Ia anak paling ditakuti. Sedangkan bongkeng adalah anak periang yang selalu sibuk dengan ingusnya. Nama sebenarnya dari bongkeng adalah Arif Maulana, namun entah mengapa Ia lebih masyhur dengan nama bongkeng.
Sedangkan anak kecil yang daritadi hanya diam, terus saja memegangi bola yang seukuran kepalanya. Maklum saja bola itu adalah pemberian ayahnya, dan di kelompok itu hanya Ia yang mempunyai bola sepak.
Gerombola bocah itu akhirnya bergegas berjalan menuju lapangan kampung sebelah yang terletak di seberang jalan. Lengkap dengan tas yang berisi botol air minum satu liter, bekas minuman bersoda. Serta bola yang mirip dengan bakso rebus yang biasa dipanggil cilok. Dalam perjalanan mereka bercanda ria penuh tawa, bahkan pi'i yang terlihat sangar masih bisa memamerkan gigi putihnya yang kontras dengan warna tubuhnya.
