Tampilkan postingan dengan label Awan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Awan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 13 Juni 2012

Titip Rindu ( yang pernah kusampirkan di riak awan)


Aku bingung dengan permulaan. Kata para ‘penyembah’ siang, matahari itu awalnya, permulaannya, di mana dunia mulai membuka mata. Kata para  ‘penyembah’ malam, surya tenggelam itulah permulaan, di mana setiap lirih menjadi begitu terang.
***
Aku mulai mengenalnya, dengan segaris senyum simpul khas nan mempesona. Itu aku yang tersenyum, bukan dia. Dengan warna baju hitam serta air muka yang dicerah-cerahkan. Itu juga aku, bukan dia. Hari itu memang kelabu, pas saat warna baju hitam yang kukenakan. Tapi itu bukan karena ada yang haru, karena haru seharusnya biru.

Diam-diam, ia balik tersenyum. Lalu kuperhatikan lagi, apa itu tulus, atau ada niat lain di balik senyum. Ah, jangan-jangan kelu.

“Mau ke mana? Hei...”

“Bukan urusan!”

Aku berjalan mendekat, semakin dekat. Dan engkau? Jauh, dan semakin menjau. Aku hanya terpekur pana sambil—lagi-lagi—tersenyum simpul. Hari itu berlalu, aku tak berniat untuk mendekatinya aku tak berniat mengusiknya, sungguh. Aku hanya ingin berada pada atmosfer yang berbeda, saat dua kutub berbeda namun sama rasa, maka bertemulah. Sungguh aku pun tak ingin, namun ini alami, sudah kehendak alam menggerakkan.
***
Continue Reading...

Followers

Follow The Author