Senin, 27 Agustus 2012

Berharap Pada Hujan



Tanah kering merekah disiram panasnya sengatan matahari siang itu, pepohonan enggan bergoyang karena sang angin belum kunjung datang. Tinggallah seorang bocah lusuh dengan peluh yang tetesnya tak mampu buat suasana syahdu. Ditemani sebungkus air es untuk sejenak hilangkan cekikan di tenggorokan.

Lebaran masih lama, terlalu utopis untuk harapkan keajaiban datang seperti iklan di tv yang mempesona. Juga jangan harapkan menang lotre, karena Pak Ustadz peringati bahwa haram uang yang didapati. Bocah lusuh berjalan tenang, tujuannya jelas: hilangkan penat atau ringankan beban. Tiga minggu lagi bulan Ramadhan, teman sebaya dipengajian semua sumringah, hanya bibirnya saja yang tak ada senyum merekah.

***

Monolog menjadi kebiasaan sejak kemarin. Kata Hana, teman baiknya, Bocah Lusuh itu jadi agak gila. Kemarin pagi ia berujar sambil mengacung-acungkan tangan ke langit, “Wahai langit biru, kapankah engkau berubah kelabu..coba siramkan air cintamu padaku!”

Dan siang ini, di tengah derasnya siraman matahari yang menusuk kulit, ia berucap, “Mana lagi hujan datang? Sudah bosankah ia sehingga tak pulang-pulang? Aku datang tapi mengapa engkau diam?”
Continue Reading...

Sabtu, 25 Agustus 2012

Bagian Tergelap



Ada yang tersiram ada yang terhunus kelam. Pada suatu kisah mengenai peraduan seorang insan yang berjalan. Dari ufuk dihadapkan raut wajah yang cerah. Namun dibalik sisinya ada gelap yang menyergap. Kadang kala sinar datang dari atas, buat teras semua. Tapi murka tetaplah saja, karena sisi gelap tetaplah ada.

Kemudian berjalan memunggungi surya. Sisi gelap semakin jelas menghitam. Tepat di hadapan, di depan sosok nestapa seorang pandir hina. Dipujanya sinar terang yang hangat. Tapi ada bagian gelep yang lupa disengat.
Continue Reading...

Cerita Kini, Kemarin, dan Esok Hari



Masih adakah yang tidak suka dengan cerita? Entah itu bercerita, atau mendengarkan cerita. Atau apaun asal masih sinonim dari cerita; dongeng, kisah, dan lain sebagainya. Tampaknya pertanyaan tersebut terlalu retoris. Sadar tidak sadar kita beraktivitas tak akan pernah lepas dari bercerita.

Ada seorang anak yang sedang curhat dengan temannya, bercerita mengenai kucingnya yang mati. Ada sekumpulan ibu-ibu sedang riuh dengan gosip mengenai artis dan skandalnya. Ada presenter berita yang sedang mewartakan bahwa ada kebakaran yang semalam melanda. Ada seorang ustadz yang ceramah dengan kisah para nabi. Dan ada seorang tersangka yang sedang membual di depan jaksa dan hakim.
Lalu, masihkah kita akan berkata. “Maaf, saya tidak suka cerita!’—Omong kosong!
Continue Reading...

Rabu, 22 Agustus 2012

Membunuh Waktu



Tidak ada lonceng jam, yang ada adalah alarm dengan aneka dering. Jangan pula berharap ada seekor burung yang keluar dari jam dinding seperti di film kartun dan berbunyi: Kikuuk…kikuuuuk.
Waktu begitu cepat berlalu, itu yang dirasakan seorang yang sibuk dengan berbagai aktivitasnya. Namun terkadang waktu serasa berjalan begituuuuuuu laaaaammmmbaaaaaaaaatt, sampai-sampai sati detik serasa jarum yang menusuk kulit. Padahal waktu yang ditempuh sama. Sama-sama 24 Jam. Waktu begitu cepat rasanya saat bermain game atau berselancar di dunia maya. Tapi serasa dikerumuni ribuan lalat seperti busuk dimakan waktu saat menunggu sesuatu, apalagi sesuatu yang ditunggu, terlebih yang tak pasti.
Continue Reading...

Followers

Follow The Author